Soto Betawi merupakan makanan khas yang dapat kamu temukan di daerah Jakarta. Sama seperti soto pada umumnya, yaitu soto Madura, dan soto sulung, soto Betawi juga menggunakan jeroan. Tidak hanya jeroan saja, terkadang kamu bisa menikmati rasa khas organ-organ hewan lainnya yang diikutsertakan di dalamnya. Seperti mata, torpedo, dan juga hati.

Sejarah Soto Betawi

[Foto: Pertamag.blogspot.com]

Soto yang memiliki sensasi rasa gurih dan berkuah segar ini, banyak menjadi favorit lidah para pengunjung. Tak hanya masyarakat Betawi saja, tetapi masyarakat luar Betawi juga banyak yang menjadikan soto ini sebagai menu favoritnya. Namun, pernahkah kamu mempertanyakan bagaimana sejarah adanya soto Betawi?

Sebelum membahas lebih dalam tentang soto Betawi, ada baiknya kita mengenal lebih dalam tentang Betawi terlebih dahulu. Betawi sendiri, adalah cikal bakal terbentuknya Ibukota DKI Jakarta. Sejarah Betawi sendiri, memiliki keterkaitan budaya dengan Cina dan Belanda yang berkembang di Batavia pada zaman dahulu.

Pada tahun 1740, banyak penduduk Cina yang merantau ke Batavia memberontak kepada Belanda yang saat itu menjajah Indonesia. Pemberontakan kedua penduduk yang berbeda kebangsaan ini, menghasilkan pertumpahan darah antara orang keturunan Cina dan Belanda. Di saat inilah, terjadi akulturasi atau perpaduan dua budaya, antara warga asli Betawi dengan penduduk pendatang.

Baca Juga : Lezatnya Soto Ayam Lamongan Cak Har di Surabaya

Pada saat itu, Belanda pun terus membangun Batavia menjadi pusat kekuasaannya. Belanda juga membangun pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan baru setelah pelabuhan Sunda Kelapa. Di abad ke-20, Batavia terus berkembang menjadi kota metropolitan dengan jumlah penduduk mencapai ratusan ribu.

Pasca perang dunia kedua meletus, Jepang masih menduduki Indonesia dan menguasai Batavia, lalu merubah nama Batavia menjadi Jakarta. Yang kemudian, kota Jakarta berkembang menjadi kota besar dan menjadi pusat pemerintahan kota sampai saat ini. Pada tahun 1970an, pemerintah menetapkan wilayah Condet sebagai kawasan cagar budaya Betawi. Hal itu sendiri, bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Betawi agar tidak punah.

Soto Betawi sendiri, merupakan masakan Indonesia yang hadir sekitar tahun 1977-1978. Dulunya dipopulerkan oleh Lie Boen Po di THR Lokasari/ Prinsen Park, dengan cita rasa khas sendiri kala itu. Pada masa-masa tersebut, banyak penjual soto yang menyebutnya dengan istilah soto kaki Pak “X” atau sebutan yang lainnya. Istilah soto Betawi sendiri, mulai menyebar dan menjadi istilah umum ketika penjual soto tersebut tutup sekitar tahun 1991.

Bahan Baku dan Penyajian Soto Betawi

[Foto: Kumparan.com]

Pada dasarnya, soto Betawi adalah soto dengan kuah santan yang isinya sangat beragam. Isian soto Betawi bisa berupa jeroan, torpedo, mata, hati, dan daging sapi. Dalam membuat soto ini sendiri, daging dan jeroan direbus pada tempat yang terpisah. Sedangkan kaldu yang digunakan dalam soto ini sendiri, adalah kuah kaldu dari rebusan daging sapi. Bahan-bahan tersebut kemudian dipotong kecil-kecil. Lalu, jeroan dan kaldu bisa dihidangkan dalam satu mangkuk untuk kemudian dinikmati.

Dalam penyajiannya, biasanya penjual akan menambahkan tomat untuk memberi cita rasa sedikit asam namun segar, daun bawang supaya aromanya semakin sedap, seledri, dan bawang goreng sebagai pelengkap. Bagian yang tidak boleh ketinggalan saat memakan soto Betawi ini adalah emping. Kamu bisa menikmati semangkuk soto Betawi bersama nasi hangat, emping yang krispi, sambal, jeruk nipis, dan acar yang segar.

Campuran santan dan susu pada soto ini memberikan perpaduan rasa yang nikmat dan gurih. Membuat soto Betawi berbeda dengan soto lainnya. Bagi kamu yang tidak suka dengan jeroan, tenang, kamu bisa memesan soto ini dengan isian daging sapi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here